This is default featured post 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured post 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured post 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured post 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured post 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions..

Selasa, 19 April 2011

perpisahan

Perpisahan

Tak ada waktu yang dapat menunggu

Ku harap engkau pun tak ragu

Walau pun aku tak lagi berjalan denganmu

Hujan pun masih turun kala itu

Secuil roti sisa tadi malam masih tergeletak di meja

Membuat semut-semut kecil berebut untuk mendapatkannya

Aku hanya dapat memandang takjub

Dengan apa yang dilakukan mereka

Kau terus datang padaku

Mengajakku untuk kembali bersama

Namun apa kata hatiku

Waktu sudah terlewat

Kulihat air matamu mengalir deras

Bagai air sungai yang mengalir waktu musim hujan

Aku sudah tidak pantas

Sudah lupakan saja aku…

Wonosobo, 31 Mei 2010

Kepastian Masa Depan

Haus sudah setelah berjalan

Ku tunggu sang waktu di persimpangan jalan

Berteman dengan teriknya raja siang

Aku pun terus memandang

Tajamnya perkataanmu

Bagai belati yang menyanyat

Semua diam saat engkau ada di situ

Aku pun terus mengingat

Baju yang lusuh masih melekat di badan

Tak peduli walau aku dianggap orang edan

Satu yang pasti aku kan mengerti

Kehidupan kan berakhir dan mati…

Wonosobo, 23 Juni 2010

Bukan untukmu

Mungkin aku tak akan berharap

Saat engkau datang menemui aku

Mungkin hanya senyum kecil yang kuberikan saat menatap

Atau juga akan jauh pergi darimu

Sejak saat itu terjadi

Sejak aku beranjak untuk pergi

Sebuah kata terlantur untukmu

“aku bukan untukmu”

Walau indah katamu meminta

Tak akan terasa, walau berjuta kata

Wonosobo, 25 Juni 2010

Senja di Pinggir Desa

SENJA DI PINGGIR DESA

Cerpen Akhmat Haridi

Matahari sudah terlihat di ufuk timur, seorang laki-laki berjalan menuju menyusuri jalan setapak di samping rumahku. Kicau burung bernyanyi membangunkan semua yang ada di alam ini terbangun, begitu juga aku. Kulihat jam dinding sudah pukul lima pagi. Terdengar dan tercium bau nasi goreng membuat aku tambah semangat menyambut pagi ini. Dan aku pun langsung beranjak dari kamar tidur dan basuh muka dan salat subuh.

“Masak nasi goreng ya Bu”, Tanya Adi kepada Ibunya. “Ya dah kumasakkan nasi goreng, cepat salat ,mandi ganti baju dan berangkat sekolah”. “Ok Bu.

Selesai mandi Adi langung menyantap sarapannya dan segera berangkat ke sekolah. Adi seperti bermimpi ia melihat lagi sesosok laki-laki yang berjalan menyusuri jalan setapak di pinggir sawah dekat rumahnya.

“Apakah kamu kenal dengan orang yang berjalan itu Ton” Tanya Adi kepada temannya.

“Belum pernah, apa mungkin ia orang baru yang menghuni rumah pinggir desa kita itu. Katanya ada warga baru di sana kata Bapakku.

“Aku jadi curiga padanya dia berengkat pagi-pagi dan pulang pun malam seperti yang kulihat kemarin.

Karena asyik mengobrol dengan Anton tak terkira jam sudah menunjukkan jam 7 kurang seperempat Adi dan Anton pun berlari agar tak terlambat datang ke sekolah. Jam tujuh tepat Adi dan anton pun sampai disekolah, hampir juga kena marah dari guru piket yang sangat galak dan satpamnya. Mereka berdua pun masuk kelas dan siap untuk menerima pelajaran dari guru. Dalam pelajaran mereka pun belum bisa menerima dengan baik pelajaran karena masih membicarakan seseorang yang telah dilihat Adi. Tak terasa bel istirahat pun berbunyi,Adi dan Anton pun mengajak teman-temannya yang kebetulan sekampung dengannya untuk diajak membicaran hal tadi.

Bel pulang sekolah telah berbunyi mereka pun langsung pulang dan sudah janjian untuk berkumpul di lapangan desa untuk menyelidiki siapa laki-laki misterius yang tinggal di desa itu. Firdaus, Slamet dan Iwan tiga teman lain Adi. Pukul tiga sore mereka berlima berkumpul di lapangan dan merencanakan penyelidikannya. Adi memdapat tugas yang berat karena dia harus mau masuk ke rumah lelaki itu yang kebetulan rumah Adi dekat dengan rumahnya. Sedangkan teman yang lainnya mengawasi dari rumah Adi.

Hari minggu pukul delapan pagi Adi memberanikan untuk masuk kerumah itu. Dengan langkah yang sedikit takut Adi berjalan menuju pintu. Kebetulan juga rumah yang di huni lelaki itu termasuk rumah tua dan sudah lama tak berpenghuni. Sesampai di depan pintu Adi terdiam sejenak dan keringat dingin pun keluar karena rasa takutnya.

Thok… thok… thok… pintu pun telah di ketuk Adi. Tak lama kemudian terdengar langkah menuju pintu untuk di buka. Dengan perasaan yang tak karuan Adi tetap menunggu di depan pintu. Terbukalah suara khas pintu yang terbuat dari kayu itu.

“Selamat pagi Nak? Ada yang bisa saya bantu? Kata laki-laki itu. Pa..pa..pa…pa…gi Pak, anu…anu… pa kabarnya pak, saya boleh bermain di halaman rumah bapak. “Boleh saja, silakan”. “Terima kasih Pak”.

Adi pun melangkah pergi menjauh dari pintu. Sambil melihat isi rumah dari pintu yang masih terbuka. Begitu juga senyum dari lelaki itu yang membuat Adi penasaran dengan sifat yang dimilikinya. Adi tak dapat bertanya banyak dengan lelaki tersebut karena rasa takut yang masih menghingapinya. Akirinya Adi menghampiri teman-temannya dan mengatakan bahwa ia tak jd menyanyakan sesuai rencana semula.

“Maaf kawan aku tak jadi bertanya seperti yang kita rencanakan tadi, aku takut sekali di sana dan aku mengatakan boleh aku dan teman-temanku bermain di halaman rumah bapak, dia pun menjawab boleh. Kelihatannya dia orang baik-baik dilhat dari cara dia bicara tadi tak ada tanda-tanda bahwa ia orang jahat. Ayo… kita main bola di sini saja seperti apa yang aku pinta pada bapak tadi, agar dia tidak curiga”. “Ok lah kalau begitu, tapi rencana yang tadi masih berlanjut kita hanya perlu waktu”.

Akhirnya mereka berlima bermain bola di halaman rumah lelaki tadi. Dengan asyiknya sehingga mereka lupa dengan apa yang telah mereka rencanakan terhadap pemilik rumah itu. Tak berapa lama pun mereka kelelahan dan beristirahat di bawah pohon beringin yang terdapat di halaman itu. Tiba-tiba lelaki yang mereka curigai datang menghampirinya, dengan membawa minuman dingin dan makana kecil.

“Di, lihat lelaki itu kira-kira dia mau kemana membawa minuman dan makanan, “Dilihat dari arahnya lelaki itu kelihatannya menuju kearah kita” kata Adi. “Duh enak ni haus dan lelah bermain dapat minuman dan makanan”, sahut Iwan. “hus… kamu itu makan saja yang dipikirkan”, jawab Anton. “Saat dia sampai di sini kita diam dulu ya” kata Adi.

“Duh dah selesai bermain ya, pasti haus kan, ini bapak bawakan minuman dan makanan, biar gak lelah lagi ayo di minum” kata lelaki itu. Sambil mengajak anak-anak itu duduk dan bercerita.

“Hei nak, Boleh kau perkenalkan nama kalian,

Nama bapak adalah Mintho, panggil saja Pak Mintho ya. Lalu mereka berlima menyebut namanya masing-masing”.

Mereka pun bertanya kepada Pak Mintho,

“Pak, mengapa bapak tinggal sendiri dirumah ini, apakah bapak tidak mempunyai keluarga, Tanya Adi mewakili teman-temannya.

“Ya, nak aku ini hidup sebatang kara, rumah yang kini kutinggali ini adalah rumah bapak dulu, setelah kedua orang tua meninggal dunia bapak pergi merantau. Di sana bapak bekerja sebagai guru SD. Bapak juga mempunyai seorang istri dan satu orang anak. Namun, kehiupan bapak mulai berubah sejak ditinggal pergi untuk selamanya oleh kedua orang yang kucintai. Karena sebuah kecelakaan telah merenggut nyawanya. Itu sudah sepuluh tahun yang lalu Nak, mungkin kalian belum lahir.

Setelah beberapa tahun hidup sendiri bapak teringat dengan rumah ini. Karena dirumah inilah aku dilahirkan dan dibesarkan dan mungkin nanti bapak menghabiskan sisa waktu hidup ini di sini. Setelah sampai disini keadaan rumah masih seperti dulu hanya banyak ditumbuhi rumput liar. Dan juga teman-teman bapak dulu sudah banyak yang pergi, sekarang banyak diisi oleh orang-orang baru”.

Setelah mendengar cerita dari Pak Mintho, Adi dan teman-temannya pun meminta maaf karena telah salah menilai tentang Pak Mintho.

“Pak, kami berlima minta maaf karena salah menilai bapak, kami mengira bapak seperti orang-orang yang seperti diberitakan di televisi, sekarang banyak teroris kan pak, kita wajib waspada setiap orang yang datang”. “Ya tidak apa-apa itu malah bagus kita wajib waspada setiap apa yang anggap kita curiga”.

Terdengar suara adzan dhuhur Pak Mintho pun mengajak mereka tuk salat berjamaah di sebuah mushola kecil yang berdiri disamping rumahnya. Dan setelah mereka salat Pak mintho pun memberi ceramah sidikit tentang agar menghargai orang tua terutama seorang ibu.

Setelah melakukan salat dan mendengarkan ceramah tadi, Adi dan teman-temannya pun pamit untuk pulang. Dalam perjalanan pulang, mereka membicarakan tentang Pak Mintho.

“Hay teman-teman sahut Adi, kalian dengar apa yang dikatakan Pak Mintho tadi, bahwa kita tidak boleh melawan kepada orang tua kita”. “Ya betul teman-teman apa kita ternyata banyak berbuat salah kepada orang tua kita, nanti setelah sampai rumah kita harus meminta maaf kepada orang tua kita ya”, jelas Anton. “Ternyata beliau orang baik ya teman-teman dan kita salah menilainya”,saut Slamet.

Setelah sampai di rumah Adi Pun langsung mencari kedua orang tuanya. Yang kebetulan kedua orang tua Adi sedang duduk-duduk santai di ruang tamu. Tanpa basa-basi Adi pun langsung menghampiri kedua orang tuanya. Pertama kali yang Adi tuju adalah ibunya. Dengan cium tangan ibunya dan memeluknya.

“Bu, Adi minta maaf ternyata Adi banyak berbuat salah kepada bapak dan ibu yang mungkin tidak bapak ibu ketahui, sudilah bapak ibu member maaf kepada Adi”. “lho..lho ada apa ni Nak, gak seperti biasanya kamu ini, ya bapak dan ibu memaafkan kamu tapi jelaskan ada apa ini”.

Adi pun menceritakan semuanya tentang apa yang terjadi hari itu juga, dan mengapa Adi sadar dengan perbuatannya selama ini.

“Bapak tahu tidak lelaki tua yang tinggal di rumah tua pinggir desa kita, semua Adi berpikir bahwa orang yang menempati rumah itu adalah orang jahat, tadi Adi bersama teman-teman bermain bola di halaman rumah itu”. “Ya bapak tahu dia bukan orang baru di sini dia dulu adalah anak dari Pak Karto yang mempunyai rumah itu, namun setelah Pak Karto dan Bu Karto meninggal orang kampung tak tahu lagi kemana perginya, itu menurut orang tua di sini”. “Ya, Pak tadi kami berlima di hampirinya dan diberi minuman dan makanan kebetulan sekali karena lelah setelah bermain, setelah itu dia mengajak kami untuk salat bersama dan memberikan sedikit ceramah agar kita sebagai seorang anak harus dapat menghargai dan tidak boleh melawan kepada orang tua” namun setelah itu kami terus meminta maaf kepada Pak Mintho”.

“Ya, bagus itu Nak kita harus meminta maaf kepada seseorang setiap kali kita bersalah kepada orang tersebut, tak peduli siapa orang itu, betul juga apa yang dikatakan Pak Mintho tadi, makanya yang nurut kepada bapak dan ibu ya, jangan nakal”. Baik pak

*****

Seminggu telah berlalu, Adi pun pergi berkunjung ke rumah Pak Mintho sekaligus menikmati indahnya matahari terbenam yang memang terlihat indah di dekat rumah Pak Mintho. Betapa terkejutnya Adi, terlihat banyak orang yang berkumpul di rumah Pak Mintho. Adi pun langsung mencari tau apa yang sedang terjadi.

Setelah bertanya kepada salah seorang, Adi tak menyangka ternyata orang yang baru kenal dan baik, di mana telah memberi pelajaran hidup sudah pergi selama-lamanya. Meninggalkan sejuta tanya yang belum terjawab. Namun, Adi tetap mengingat pesan yang telah disampaikan kepadanya, walau hanya satu pesan tapi banyak manfaatnya, bahwa kita hidup harus dapat menghargai orang tak peduli siapa itu orangnya terlebih orang terdekat kita yaitu orang tua kita.

“Selamat jalan Pak Mintho…….”

Wonosobo, 30 November 2010

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More